Sat. Sep 26th, 2020

FIFABR

Artikel Kesehatan Olahraga

Rekor Tertinggi Tambahan Kasus Corona di Indonesia, 689 Orang Dinyatakan Positif dalam 24 Jam

2 min read

Adanya 689 tambahan kasus positif virus corona covid 19 di Indonesia dalam 24 jam terakhir, sejak Selasa (12/5/2020), yang diumumkan pemerintah pada Rabu (13/5/2020) menjadi tambahan tertinggi. Penambahan tertinggi kasus virus corona di Indonesia sebelumnya tercatat terjadi pada Sabtu (9/5/2020) dengan 533 kasus. Hingga kini, total sudah ada 15.438 kasus pasien positif.

Pasien sembuh bertambah 224 orang, sehingga total kasus sembuh berjumlah 3.287 orang. Adapun kasus kematian bertambah 21, sehingga total kasus kematian berjumlah 1.027 orang. Sementara itu, Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, mengungkapkan pemerintah masih berfokus pada pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Moeldoko menyebut hingga saat ini belum ada relaksasi PSBB. Adanya isu relaksasi atau pelonggaran yang muncul di masyarakat, Moeldoko menyebut masih sebatas kajian yang disiapkan pemerintah bila nanti kurva penularan Covid 19 mengalami penurunan. "Sebenarnya fokus kita adalah masih fokus kepada PSBB," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Selasa (12/5/2020), dilansir .

Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut Moeldoko bersama para kepala daerah telah mengkaji efektivitas PSBB. Kajian yang dihasilkan menyebut pemerintah daerah yang menerapkan PSBB merasakan manfaatnya. Hal ini ditunjukkan dengan turunnya jumlah kasus harian Covid 19.

Lebih lanjut, mantan Panglima TNI tersebut mengungkapkan pemerintah baru akan melonggarkan PSBB jika laju penambahan kasus harian benar benar turun drastis. Skenario pun sedang disiapkan pemerintah jika nanti adanya pelonggaran. Yakni tetap menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas agar tak kembali mengalami peningkatan kasus.

"Ke depan kalau situasinya memburuk, kalau situasinya menuju ringan seperti apa. Kalau situasinya sedang seperti apa. Kalau berat seperti apa. Itu skenario skenario yang dibangun seperti itu," ujar Moeldoko. "Maka kalau muncul skenario ringan maka bisa bisa nanti akan dijalankan kelonggaran atau kemarin yang sempat terlontar ialah relaksasi," lanjutnya. Sementara itu epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebut pemerintah sebaiknya tidak terburu buru melonggarkan PSBB.

Menurut Pandu, setidaknya ada tiga indikator yang dapat diacu pemerintah sebelum melonggarkan PSBB. "Pertama, indikator epidemiologi. Kasus positif Covid 19 menurun, pasien dalam pengawasan (PDP) menurun, kematian menurun. Itu selama observasi paling tidak dua minggu," ujar Pandu, Rabu (13/5/2020), dilansir . Kedua, kapasitas tes Covid 19 yang dilancarkan pemerintah.

Menurut Pandu, turunnya jumlah kasus Covid 19 harus dipastikan bukan karena lemahnya kemampuan tes dan deteksi pemerintah. Berdasar data Worldometers , saat ini Indonesia hanya mampu memeriksa 0,6 orang per 1.000 penduduk. Adapun Filipina mampu memeriksa 1,6 orang per 1.000 penduduk.

Pembanding lainnya, Malaysia mampu mengetes 8 orang dan Amerika Serikat 29 orang. "Jadi nanti jangan penurunan kasusnya karena berkurangnya testing. Testing ini harus terus meningkat," kata Pandu. "Indikator tes meningkat apa? Tidak boleh ada antrean sampel lagi. Kasus ditemukan kemarin, hari ini (hasilnya) keluar. Jadi, jeda tes hanya sehari. Semua PDP dan ODP sudah bisa diperiksa dalam waktu singkat," kata dia.

Sementara itu indikator ketiga, pemerintah harus mampu menjamin sistem layanan kesehatan jauh lebih kuat. Pandu menyebut pengalaman dari beberapa negara yang telah melonggarkan lockdown seperti Jerman, China, dan Korea Selatan, terdapat peluang munculnya gelombang kedua pandemi Covid 19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.